Showing posts with label Lifestyle. Show all posts
Showing posts with label Lifestyle. Show all posts

Tuesday, February 17, 2009

Seberapa aman profile anda di Facebook?


Facebook adalah sebuah fenomena. Situs internet, yang namanya berasal dari istilah sebuah kertas yang diberikan kepada mahasiswa atau staf kampus baru untuk berkenalan pada komunitas kampus di Amerika Serikat, telah menjadi situs jaringan sosial dengan member terbanyak di dunia. Diawali dengan niat hanya untuk komunitas internal Harvard University, Mark Zuckerberg, pendiri Facebook, kini menjadi salah satu orang terkaya di dunia pada usia 24 tahun.


Dengan Facebook, kita mampu mencari orang-orang yang sudah lama tidak kita jumpai dan menjaga tali silaturahmi dengan komunitas. Jarak bukan lagi masalah. Akan tetapi, yang namanya teknologi pasti mempunyai efek samping tersendiri, tergantung bagaimana kita menggunakannya. Yang saya soroti pada perkembangan facebook ini adalah privacy. Apakah facebook telah menyediakan pelayanan privacy yang mumpuni?


Pada Desember 2005, 2 orang mahasiswa MIT berhasil men-download, dengan menggunakan automated script, lebih dari 70.000 profile Facebook dari 4 universitas yang mereka incar, yaitu, MIT, NYU, University of Oklahoma, dan Harvard sebagai bagian dari proyek penelitian pada privacy Facebook. Kenyataan ini membuktikan adanya kesempatan terbuka untuk melakukan data mining pada Facebook. Salah satu contoh implikasinya adalah, jika anda menaruh alamat email di profile Facebook anda yang terkena data mining, kemungkinan email anda dibanjiri oleh spam iklan menjadi lebih besar. Apalagi, jika anda menaruh alamat, nomor telepon, atau informasi-informasi personal lainnya, keleluasaan pribadi anda akan semakin kecil.

Perhatian masyarakat di Amerika Serikat juga tercurah pada kesulitan untuk menghapus user account. Facebook hanya membolehkan user-nya untuk melakukan “deactivate” pada account mereka sehingga menjadi tidak terlihat. Walaupun demikian, informasi-informasi pada account ini ternyata tetap berada pada server Facebook. Hal ini membuat kesal banyak pengguna yang ingin menghapus account mereka secara permanen, menggunakan alasan kesulitan untuk menghapus “embarrassing or overly-personal online profiles from their student days as they entered the job market, for fear employers would locate the profiles”. Alasan yang logis memang, karena sekarang, perusahaan-perusahaan sering menggunakan situs jejaring sosial macam facebook dan friendster sebagai salah satu cara untuk melakukan background check pada calon karyawan.

Akan tetapi, masalah privacy tidaklah selalu muncul akibat kesalahan sistem, tapi bisa juga dari kecerobohan penggunanya. Baru-baru ini, Daisy Tourne, seorang menteri dalam negeri Uruguay harus menanggung malu akibat kritik dari pihak oposisi negaranya. Apa pasal? Wanita ini ternyata memasang fotonya ketika sedang mandi di bawah shower di profile Facebook-nya. Sebenarnya foto itu hanya memperlihatkan kedua tangan Daisy dan wajahnya yang tertawa di bawah aliran air, tapi kontroversi tetap saja muncul. "Para menteri harus lebih cermat dan sopan, apalagi Menteri Dalam Negeri yang memerintah pasukan polisi," ujar salah satu pemimpin oposisi.

Di Italia, muncul grup-grup pemuja mafia di Facebook. “Fans club” ini memuja simbol-simbol Cosa Nostra, seperti Bernardo Provenzano, bos mafia yang ditahan tahun 2006 setelah 40 tahun menjadi buronan, dan Toto Riina, seorang mafia yang diyakini telah membunuh lebih dari 40 orang dengan tangannya sendiri dan memerintah pembunuhan ratusan orang lainnya. Menanggapi hal ini, polisi Italia memutuskan akan menginvestigasi orang-orang yang terlibat pada komunitas ini karena kecurigaan membantu organisasi kriminal.

Cerita di atas adalah satu cerita dari banyaknya cerita mengenai kecerobohan pengguna internet. Dalam lingkungan internet yang tidak terbatas, setiap orang di planet ini akan mampu mencari keberadaan kita melalui situs jaringan sosial semacam Facebook. Oleh karena itu, menjadi sebuah hal yang penting bahwa kita harus mendesain privacy profile kita dengan baik. Menjaga perhatian khalayak umum dari hal-hal yang terlalu personal.

(Ibaratnya, jangan sampai seperti Sarah dan Rahma Azhari. Kalau memang tidak mau khalayak umum melihat foto-foto macam itu, ya simpan baik-baik. Atau gak usah foto kayak gitu sekalian.. loh malah ngegosip gw..)

So guys, hati-hati main di facebook. Bikin profile yang bener. Gak usah pasang foto aneh2..haha

Wednesday, July 30, 2008

Belajar Kebut Semalam : Penyakit yang Menjadi Solusi


Education is what remains after one has forgotten everything one learned in school." (Albert Einstein)


Bila anda seorang pelajar, mungkin anda sering mengalami hal ini. Tanpa terasa ujian telah datang, anda yang terus mengira ujian masih lama bingung dan panik. Anda ”merasa” belum belajar yang cukup. ”Merasa” di sini bisa berarti anda benar-benar belum belajar atau sudah belajar namun belum yakin akan keefektifan belajar yang anda lakukan.


Untuk maksud yang pertama, anda memang pastinya tidak punya bekal apa-apa. Sudah kepalang basah tidak pernah menyicil pelajaran, anda pun belajar kebut semalam atau orang sering menyebutnya SKS (Sistem Kebut Semalam). Semalaman begadang, anda belajar poin-poin penting yang anda kira akan menjadi bahan ujian.


Cara belajar macam ini sudah hampir pasti pernah dialami oleh semua mahasiswa, apalagi untuk mahasiswa yang ”merasa” dirinya sibuk. Sekali lagi, ”merasa” di sini, bisa berarti benar-benar sibuk atau berasumsi sibuk. Ada beberapa alasan yang membuat kita terus melakukannya, terlepas dari pendapat yang menyatakan bahwa cara belajar ini adalah cara yang buruk. Aldo, seorang mahasiswa UI, merasa bahwa kesibukannya di senat dan banyak kepanitiaan membuat dia merasa tidak punya banyak waktu untuk belajar jauh-jauh hari sebuah ujian. Untungnya, di kampus Aldo, tidak ada kegiatan kepanitiaan atau organisasi yang berlangsung ketika ujian berjalan. Jika ada, mungkin Aldo bingung, kodratnya sebagai mahasiswa akan berbenturan dengan kiprahnya di dunia profesional kampus. Selain alasan itu, anda mungkin terlena, mengira bahwa ujian masih lama. Alasan ini bisa menjadi sangat relevan jika anda adalah seorang yang apatis/cuek atau memang hanya sekedar malas sehingga menunda-nunda waktu belajar.


Ada dua tujuan mengapa kita belajar. Pertama, karena kita ingin memperoleh hasil atau output yang baik dari usaha belajar kita. Hasil ini bisa berupa nilai ujian. Kedua, kita belajar karena kita menyukai hal-hal yang kita pelajari dan berusaha memenuhi rasa keingintahuan kita melalui belajar.


Tujuan pertama membuat kita terlalu berorientasi pada hasil atau dalam konteks ini adalah nilai ujian. Orientasi ini menyebabkan kita mengesampingkan proses dan makna belajar sesungguhnya, belajar untuk pintar. Orang-orang yang mempunyai tujuan ini lebih sering belajar kebut semalam dibandingkan orang-orang yang mempunyai tujuan kedua


Oleh karena itu, bagi penulis, tujuan kedua merupakan tujuan yang lebih ideal. Dengan tujuan kedua, kita akan lebih termotivasi untuk belajar karena motivasi ini datangnya dari dalam diri sendiri, bukan dari beban untuk mendapat nilai bagus. Mungkin anda pernah bertanya-tanya mengapa berbagai ilmu pengetahuan yang luar biasa, yang mampu menyederhanakan pekerjaan dan membuat hidup lebih nyaman, hanya memberi kita kebahagiaan kecil. Jawabnya sederhana saja, karena kita belum belajar untuk menggunakannya di kehidupan kita. Kurangnya self-relevance ini membuat kita kadang sulit mencintai proses belajar yang kita lakukan,. Kita terlalu kaku pada textbook yang ada dan tidak mengimplikasikan materi itu terhadap kehidupan sehari-hari kita yang sederhana.


Ketika kita belajar kebut semalam, ada beberapa dampak yang mungkin kita bisa rasakan. Selama belajar, tentunya otak kita dipaksa untuk bekerja untuk memahami materi-materi pelajaran dalam semalam, padahal materi ini sebenarnya untuk 3 bulan, misalnya. Sepintar apapun kita, jika materi yang kita pelajari terlalu banyak, maka kita hanya mampu mempelajari sebagian permukaan-permukaannya saja. Belajar kebut semalam juga hanya mendorong kita untuk menghapal, membuat kita tidak memahami seluruh materi secara utuh.


Selain itu, karena letihnya kita belajar dengan begadang, kita bisa menjadi kurang fit ketika menjalani ujian. Kurangnya istirahat membuat kita ngantuk dan bisa berpengaruh buruk terhadap ujian.


Dampak-dampak di atas mungkin tidak berlaku bagi semua orang. Mungkin ada orang yang sudah sangat terbiasa dengan cara belajar ini dan mendorong mereka merasa bahwa cara belajar ini adalah cara yang terbaik bagi mereka. Terhadap fenomena ini, kita bahkan bisa melihat buku-buku rangkuman dijual bagi orang yang memang suka ber-SKS-ria. Metode-metode pun dilahirkan untuk membantu orang-orang seperti ini, misalnya seperti teknik ”encapsulation”. Teknik ini bermaksud untuk mengekspresikan bagian penting dari sesuatu dengan kata yang pendek, ruang kecil atau objek tunggal. Kata ”encapsulation” sebenarnya berasal dari bidang ilmu objek berbasis pemrograman.


Dalam tulisan ini, penulis tidak menyimpulkan bahwa belajar kebut semalam adalah hal yang buruk. Seperti kata-kata Albert Einstein di atas, pendidikan di sekolah menjadi berguna jika pengetahuan yang kita dapatkan dapat kita ingat sepanjang hidup kita. Jadi, yang penting adalah seberapa jauh cara belajar yang kita pilih dan lakukan dapat membawa manfaat jangka panjang bagi diri kita.


Monday, May 12, 2008

Kehampaan Sebuah Rasionalitas


Beberapa hari yang lalu, saya bertemu dengan teman-teman lama saya. Lama tidak bertemu, kami pun memperbincangkan banyak hal. Dari topik wanita sampai nostalgia masa-masa SMA. Alih-alih bersenang-senang, kami pun mulai membicarakan yang agak serius, obrolan mengenai esensi agama. Salah satu teman saya mengatakan bahwa dia yakin kekuatan yang mengatur alam ini pasti ada. Akan tetapi, dia sama sekali tidak menyinggung apakah kekuatan itu adalah Tuhan atau bukan. Baginya, agama hanya menjadi pembatas bagi hubungan manusia. Terjadilah perdebatan panjang antara kami. Hasilnya tak berujung. Kami tetap pada pendapat masing-masing.


Entah kenapa, setelah itu perbincangan itu, saya terus berpikir kenapa hal ini sulit disamakan dan tidak akan pernah ada jalan temunya sampai akhir zaman. Semakin saya berpikir, saya malah makin yakin rasionalitas saya tidak akan mampu menjawabnya. Mengapa? Karena rasionalitas bukanlah sesuatu yang sempurna dan terlalu hampa untuk menjawab masalah spiritual seseorang.


Saya tidak perlu mengatakan bahwa agama saya adalah agama yang terbaik karena semua pemeluk agama pasti akan merasa agamanya adalah agama yang terbaik. Agak sensitif memang membicarakan hal ini, tapi yang pasti saya tidak akan mencodongkan tulisan ini kepada agama atau aliran spiritual tertentu. Saya hanya mencoba menjelaskan perbedaan anutan spiritual ini dari sisi humanitas dengan menggunakan rasionalitas (yang sudah saya katakan tadi, tidak sempurna dan hampa). Harapannya adalah agar orang tidak akan pernah memaksakan agamanya kepada orang lain.


Mungkin kadang kita pernah merenung, sebenarnya apa awal dan akhir kehidupan ini. Setiap agama memang menjelaskan hal itu. Tapi memang sifat dasar manusia, manusia selalu bersikap mencari penjelasan ilmiah terhadap apa yang telah, sedang, dan akan terjadi. Manusia mencoba menciptakan teorinya sendiri dari teori penciptaan angkasa seperti teori Big Bang sampai reinkarnasi ataupun hari kiamat. Sampai kapanpun juga, saya rasa manusia tidak akan pernah mempunyai jawaban ilmiah yang utuh. Karena apa? Rasionalitas kita masih terlalu hampa. Kemudian, pemeluk agama yang beriman itupun menyandarkan jawabannya pada kitab suci masing-masing.


Lalu pertanyaannya, mengapa manusia bisa sedemikian yakin dengan penjelasan agama mereka masing-masing? Banyak hal. Akan tetapi, alasan yang paling kuat adalah adanya pengalaman spiritual masing-masing orang yang sulit dijelaskan dengan kata-kata atau simbol apapun.


Pengalaman spiritual ini bisa berupa apa saja dari pengalaman menjalankan ibadah sampai diterimanya hidayah dalam berbagai bentuk. Mungkin teman saya tadi akan mengatakan bahwa hal itu hanya sekedar sugesti. Sugesti yang kuat, yang membuat tubuh manusia bergerak sesuai keinginan sugesti pikirannya. Tidak, pengalaman spiritual ini lebih dari sekedar sugesti. Pengalaman spiritual ini bisa mengubah jati diri kita cukup sesaat saja, tanpa melalui kebiasaan atau ritual apapun yang memungkinkan berkembangnya sugesti. Sedemikian kuatnya, orang dengan berbagai kasus kriminal pun bisa berubah sedemikian cepatnya menjadi orang yang saleh akibat pengalaman spiritual itu.


Menurut saya, beruntunglah bagi kita yang pernah mengalami pengalaman spiritual ini, karena tidak semua orang pernah mengalami hal ini. Kealpaan pengalaman ini membuat banyak orang menjadi tidak percaya pada agama dan Tuhan. Konsekuensinya, mereka kehilangan pegangan hidup dan hanya bersandar pada aturan hukum ciptaan manusia di dunia.


Jadi, pengalaman inilah yang mampu menjelaskan mengapa perbedaan itu terus terjadi. Selama kita tidak pernah melewati pengalaman spiritual yang sama, maka kita juga tidak akan menempuh kepercayaan yang sejalan. Pengalaman di luar penjelasan rasionalitas ini membuat orang-orang meneguhkan pendirian agamanya masing-masing. Perbedaan yang sebenarnya tidak perlu dibesar-besarkan dan dipaksakan untuk menjadi persamaan, karena setiap agama mengajarkan toleransi beragama terhadap pemeluk agama lain yang tidak melewati pengalaman spiritual yang sama.