Wednesday, July 30, 2008

Belajar Kebut Semalam : Penyakit yang Menjadi Solusi


Education is what remains after one has forgotten everything one learned in school." (Albert Einstein)


Bila anda seorang pelajar, mungkin anda sering mengalami hal ini. Tanpa terasa ujian telah datang, anda yang terus mengira ujian masih lama bingung dan panik. Anda ”merasa” belum belajar yang cukup. ”Merasa” di sini bisa berarti anda benar-benar belum belajar atau sudah belajar namun belum yakin akan keefektifan belajar yang anda lakukan.


Untuk maksud yang pertama, anda memang pastinya tidak punya bekal apa-apa. Sudah kepalang basah tidak pernah menyicil pelajaran, anda pun belajar kebut semalam atau orang sering menyebutnya SKS (Sistem Kebut Semalam). Semalaman begadang, anda belajar poin-poin penting yang anda kira akan menjadi bahan ujian.


Cara belajar macam ini sudah hampir pasti pernah dialami oleh semua mahasiswa, apalagi untuk mahasiswa yang ”merasa” dirinya sibuk. Sekali lagi, ”merasa” di sini, bisa berarti benar-benar sibuk atau berasumsi sibuk. Ada beberapa alasan yang membuat kita terus melakukannya, terlepas dari pendapat yang menyatakan bahwa cara belajar ini adalah cara yang buruk. Aldo, seorang mahasiswa UI, merasa bahwa kesibukannya di senat dan banyak kepanitiaan membuat dia merasa tidak punya banyak waktu untuk belajar jauh-jauh hari sebuah ujian. Untungnya, di kampus Aldo, tidak ada kegiatan kepanitiaan atau organisasi yang berlangsung ketika ujian berjalan. Jika ada, mungkin Aldo bingung, kodratnya sebagai mahasiswa akan berbenturan dengan kiprahnya di dunia profesional kampus. Selain alasan itu, anda mungkin terlena, mengira bahwa ujian masih lama. Alasan ini bisa menjadi sangat relevan jika anda adalah seorang yang apatis/cuek atau memang hanya sekedar malas sehingga menunda-nunda waktu belajar.


Ada dua tujuan mengapa kita belajar. Pertama, karena kita ingin memperoleh hasil atau output yang baik dari usaha belajar kita. Hasil ini bisa berupa nilai ujian. Kedua, kita belajar karena kita menyukai hal-hal yang kita pelajari dan berusaha memenuhi rasa keingintahuan kita melalui belajar.


Tujuan pertama membuat kita terlalu berorientasi pada hasil atau dalam konteks ini adalah nilai ujian. Orientasi ini menyebabkan kita mengesampingkan proses dan makna belajar sesungguhnya, belajar untuk pintar. Orang-orang yang mempunyai tujuan ini lebih sering belajar kebut semalam dibandingkan orang-orang yang mempunyai tujuan kedua


Oleh karena itu, bagi penulis, tujuan kedua merupakan tujuan yang lebih ideal. Dengan tujuan kedua, kita akan lebih termotivasi untuk belajar karena motivasi ini datangnya dari dalam diri sendiri, bukan dari beban untuk mendapat nilai bagus. Mungkin anda pernah bertanya-tanya mengapa berbagai ilmu pengetahuan yang luar biasa, yang mampu menyederhanakan pekerjaan dan membuat hidup lebih nyaman, hanya memberi kita kebahagiaan kecil. Jawabnya sederhana saja, karena kita belum belajar untuk menggunakannya di kehidupan kita. Kurangnya self-relevance ini membuat kita kadang sulit mencintai proses belajar yang kita lakukan,. Kita terlalu kaku pada textbook yang ada dan tidak mengimplikasikan materi itu terhadap kehidupan sehari-hari kita yang sederhana.


Ketika kita belajar kebut semalam, ada beberapa dampak yang mungkin kita bisa rasakan. Selama belajar, tentunya otak kita dipaksa untuk bekerja untuk memahami materi-materi pelajaran dalam semalam, padahal materi ini sebenarnya untuk 3 bulan, misalnya. Sepintar apapun kita, jika materi yang kita pelajari terlalu banyak, maka kita hanya mampu mempelajari sebagian permukaan-permukaannya saja. Belajar kebut semalam juga hanya mendorong kita untuk menghapal, membuat kita tidak memahami seluruh materi secara utuh.


Selain itu, karena letihnya kita belajar dengan begadang, kita bisa menjadi kurang fit ketika menjalani ujian. Kurangnya istirahat membuat kita ngantuk dan bisa berpengaruh buruk terhadap ujian.


Dampak-dampak di atas mungkin tidak berlaku bagi semua orang. Mungkin ada orang yang sudah sangat terbiasa dengan cara belajar ini dan mendorong mereka merasa bahwa cara belajar ini adalah cara yang terbaik bagi mereka. Terhadap fenomena ini, kita bahkan bisa melihat buku-buku rangkuman dijual bagi orang yang memang suka ber-SKS-ria. Metode-metode pun dilahirkan untuk membantu orang-orang seperti ini, misalnya seperti teknik ”encapsulation”. Teknik ini bermaksud untuk mengekspresikan bagian penting dari sesuatu dengan kata yang pendek, ruang kecil atau objek tunggal. Kata ”encapsulation” sebenarnya berasal dari bidang ilmu objek berbasis pemrograman.


Dalam tulisan ini, penulis tidak menyimpulkan bahwa belajar kebut semalam adalah hal yang buruk. Seperti kata-kata Albert Einstein di atas, pendidikan di sekolah menjadi berguna jika pengetahuan yang kita dapatkan dapat kita ingat sepanjang hidup kita. Jadi, yang penting adalah seberapa jauh cara belajar yang kita pilih dan lakukan dapat membawa manfaat jangka panjang bagi diri kita.


No comments: