Saturday, July 4, 2009

Story of Market Fools


"I never attempt to make money on the stock market. I buy on the assumption that they could close the market the next day and not reopen it for five years.", Warren Buffet

Nama saya adalah Paijo. Saya seringkali berkumpul dengan teman-teman saya di sebuah ruangan yang penuh dengan komputer. Di sana, kami berkumpul mendiskusikan kondisi pasar hari ini. Silih berganti, kami keluar masuk ruangan. Setiap ada orang baru masuk, selalu saja ada topik baru untuk dibicarakan. Berikut merupakan dialog-dialog yang saya sering dengar di ruangan tersebut.

Dialog 1 (Acong dan Joko)
"Woy gila, saham BUMI turun banget. Dihajar habis-habisan" ujar si Acong sambil menunjuk label harga di komputer.
"Anjrit, gw lagi gak ada duit. Pake jatah utang aja kali ya?" Joko menimpali.
"Lu mau main margin lagi? Yakin lu?"
"Santai aja kali. Asal lu yakin aja. Lu liat napa, BUMI dihajar abis-abisan tuh. Palingan besok naik lagi, turunnya udah berlebihan"
Kemudian Joko berteriak, "Woi Don, beli BUMI di 1400!!"
"Sip Bos!", Doni Sang Broker menyahut.

Dialog 2 (Sitorus dan Made)
"Oi De, INCO udah 2500 tuh. Gak lu jual saham lu?", tanya Sitorus.
"Ah gak lah, gw masih rugi cuy. Orang gw belinya di harga 8000 gitu", jawab Made.
"Kayaknya sih ini udah kelewat naik De, rawan koreksi. Mendingan lu jual dulu"
"Pokoknya gw gak akan jual rugi. Mendingan gw tunggu sampai harganya naik lagi"
"Mau nunggu sampai kapan lu?"
"...."

Dialog 3 (Bagong dan Petruk)
"Indeks turun lagi. BNBR jadi 100" ucap Bagong kalem.
"Biarin aja. Pasar lagi panik. Ntar pasti naik lagi" sanggah Petruk.
"Ini turun terus lho"
"Kalau urusan utang-utangan itu selesai, harga pasti naik. Lagipula, gw kan investor jangka panjang"
"Lah, bukannya kemaren lu megang BUMI cuma 2 hari?"
"Untung 10% ya langsung gw jual. Daripada nanti turun lagi"

Sambil mendengar percakapan itu, saya berdiam diri menonton berita bisnis di televisi. Ada percakapan di antara para jurnalis itu. Antara Mas Leonard dan Mbak Maria.
"Maria, bagaimana kondisi pasar hari ini?"
"Hari ini tampaknya merupakan hari yang baik untuk para investor. Tercatat indeks mengalami kenaikan sebesar 2 point", ujar sang wanita yang berada di trading floor.
"Berita apa yang menyebabkan penurunan ini?"
"Diperkirakan pasar menyambut baik kemenangan dari partai incumbent. Para investor berharap agar stabilitas tetap terjaga agar bisnis dapat berjalan dengan baik"
"Terima kasih Maria, kami tunggu terus perkembangan pasar hari ini dari anda"

Saya ganti salurannya ke CNBC, lalu ada tagline seperti ini,
"Dollar down 0.14 yen on higher Japanese surplus."
"Dow is up 1.02 on lower interest rate."

***

Kami selalu merasa bahwa, secara jangka panjang, harga saham pasti akan naik. Walaupun harga saham turun drastis, kami akan menahan saham hingga harganya kembali naik. Yang penting, sabar. Bahkan ada pepatah, bad traders divorce their spouse sooner than abandon their positions.

Selain itu, kami juga selalu berubah cerita menjadi investor jangka panjang ketika kami kehilangan uang. Bolak-balik berubah profesi antara trader dan investor tergantung dari situasi pasar. Sebenarnya, tidak ada salahnya untuk berinvestasi pada "jangka panjang" asalkan tidak mencampurnya dengan trading jangka pendek. Hanya saja, kami menunda keputusan untuk menjual karena takut cut loss.

Kami, para trader, tidak suka untuk menjual ketika saham berada dalam "value yang lebih baik". Harga saham yang turun membuat saham itu punya value yang lebih baik lagi. Kami tidak pernah mempertimbangkan bahwa metode kami dalam menilai suatu saham bisa saja salah. Selalu merasa bahwa pasar gagal untuk mengakomodasi ukuran kami menilai saham. Itulah mengapa, ketika harga saham turun, kami selalu senang untuk mengkoleksi lebih banyak saham karena saham berada pada "value yang lebih baik lagi".

"Stop losses are for schmucks! We are not going to buy high and sell low!!"

Menolak kenyataan pasar adalah hobi kami. Ketika merugi, kami tidak akan pernah mudah menerima yang terjadi. Harga yang terlihat turun drastis pada monitor telah kehilangan esensinya. Kami menggunakan banyak alasan untuk menjelaskan penurunan tersebut. Alasan, yang intinya, berkisar pada menyalahkan efisiensi pasar, seperti pasar panik, pasar irrasional, dan profit taking, dibandingkan mengevaluasi diri bahwa mungkin saja kami yang membuat keputusan salah.

Setiap hari, para jurnalis bisnis selalu menemani kami dengan analisa-analisa dangkal. Kemampuan jurnalis ini kami ukur dari seberapa pintar mereka bicara dibandingkan seberapa mampu mereka beradaptasi pada kenyataan yang ada. Mereka selalu menjelaskan pergerakan kecil saham yang sebenarnya merupakan perfect noise. Seperti adegan di atas, kenaikan 2 point adalah tidak lebih dari pergerakan sebesar 0,1%. Sebuah pergerakan yang sepatutnya tidak memerlukan penjelasan.

Kausalitas adalah sesuatu yang kompleks. Kami sering lupa bahwa kami tidak bisa berkata IHSG naik hanya karena sebelumnya ada pengumuman pemenang pemilu. Banyak hal yang bisa menyebabkan IHSG naik. Misalnya, pasar saham dapat saja bereaksi pada perubahan tingkat BI rate, kurs rupiah terhadap dollar, kurs rupiah terhadap euro, pergerakan indeks Dow Jones, inflasi Indonesia, dan berpuluh-puluh faktor lainnya.

Para jurnalis harus melihat data historis variabel tersebut dan kemudian menguji hubungannya satu-persatu. Apabila, pada tingkat kepercayaan 90% atau berapapun, pengujian ini gagal, cerita jurnalis itu menjadi sampah. Tidak heran, para jurnalis lebih senang membuat cerita versi mereka sendiri. Toh, kami pun tetap menonton mereka.

***

So, how cool are we?
We are smarter than Mama Lauren, I suppose.
Predicting is not a problem for us.
It's easy, stocks will always be higher

No comments: